GADGET TEKNO

Jangan Asal Viral, Pahami Batasan dan Etika Bermedia Sosial

Etika Bermedia Sosial, konten viral, content creator, bahas
Ilustrasi - Seorang wanita menggunakan media sosial. (Pexels)

JAKARTA โ€“ Kebebasan berekspresi di era digital saat ini menghadapi tantangan besar di mana setiap orang bisa menjadi pembuat konten (content creator).ย 

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), R. Derajad Sulistyo Widhyharto, mengingatkan bahwa kebebasan tersebut wajib diimbangi dengan tanggung jawab moral dan etika bermedia sosial yang kuat agar tidak menabrak batasan hukum.

Menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi sekadar kemampuan teknis digital, melainkan kesadaran sosial dalam berinteraksi di ruang maya.

Prabowo Sediakan Lahan 4.000 Meter untuk Kantor Baru MUI dan Baznas

Batasan Hukum dalam Konten Digital

Derajad menegaskan bahwa dunia digital bukanlah ruang hampa hukum. Banyak unggahan yang awalnya dianggap biasa, justru berujung pada jerat pidana karena kurangnya pemahaman terhadap batasan legal.

โ€œBatasan pertama yang perlu dipahami masyarakat mempunyai batas hukum. Tidak semua hal boleh diunggah, terutama jika mengandung unsur pelanggaran seperti hoaks, ujaran kebencian, pornografi, pelanggaran privasi, atau pencemaran nama baik,โ€ ujar Derajad kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (7/11/2025).

Ia menekankan bahwa kepentingan sosial tetap melekat di dunia digital, sehingga etika sosial dan hukum negara mutlak berlaku.

Cara Kemkomdigi Genjot Skill Digital: Siapkan 8.000 Akun Canva Pro Gratis

Empati di Atas Viralitas

Selain aspek hukum, tanggung jawab moral juga menjadi sorotan. Derajad mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada hasrat membuat konten viral yang sensasional namun mengabaikan empati. Tidak semua peristiwa, terutama yang menyangkut musibah atau aib, layak dijadikan konsumsi publik.

โ€œMasyarakat perlu belajar memilah mana yang pantas dibagikan ke publik dan mana yang sebaiknya tetap menjadi ruang privat. Prinsip sederhana yang bisa dipegang adalah apakah konten ini memberi manfaat, atau justru melukai martabat orang lain,โ€ jelasnya.

Pentingnya Literasi Digital

Di tengah algoritma media sosial yang mendorong viralitas, kreator konten diminta menerapkan budaya digital yang sehat. Fokus seharusnya pada nilai edukasi, bukan sekadar mengejar eksposur.

Olympian Nurul Akmal Jadi PPPK Paruh Waktu, Kemenpora Buka Suara

Derajad menutup pandangannya dengan menekankan pentingnya pendidikan literasi digital. Kemampuan mengelola emosi dan memahami etika dibutuhkan agar partisipasi publik melalui konten digital benar-benar bermakna, mencerdaskan, dan beradab.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita BAHAS ID WhatsApp Channel Disini. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Interpol Resmi Terbitkan Red Notice Riza Chalid, Kini Jadi Buronan Internasional
ร—
ร—