JAKARTA โ Para taipan di Asia-Pasifik kini tengah berlomba membangun data center skala raksasa. Ledakan kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI) menjadi pemicu utama perlombaan data center Asia ini.
Dari Malaysia, India, hingga Indonesia, proyek miliaran dolar bermunculan untuk memenuhi permintaan infrastruktur AI dari raksasa teknologi seperti Amazon, Google, dan Nvidia.
Demam AI Memicu Ledakan Infrastruktur
Ledakan investasi AI telah menciptakan kebutuhan infrastruktur yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perusahaan teknologi global membutuhkan kapasitas masif untuk melatih dan menjalankan model AI mereka, yang memicu lonjakan permintaan data center.
Menurut konsultan properti Cushman & Wakefield, kapasitas data center di Asia-Pasifik diproyeksikan melonjak lebih dari dua kali lipat, dari 12 gigawatt (GW) pada 2024 menjadi lebih dari 29 GW pada 2030.
Arena Para Taipan: Siapa Cepat Dia Dapat
Malaysia menjadi salah satu arena terpanas. Konglomerat Francis Yeoh melalui YTL Power International membangun kawasan pusat data seluas 664 hektare di Johor, bekerja sama dengan Nvidia. Dari total rencana investasi US$4,3 miliar, sekitar US$2,4 miliar sudah digelontorkan.
Johor kini muncul sebagai hub baru berkat melimpahnya lahan, listrik, dan air. Perdana Menteri Anwar Ibrahim bahkan menargetkan Malaysia menjadi negara terdepan AI pada 2030.
Di India, taipan Gautam Adani bekerja sama dengan Google menggelontorkan US$15 miliar untuk kampus pusat data di Andhra Pradesh. Pesaingnya, Mukesh Ambani, berencana membangun pusat data AI berkapasitas 1 GW.
Tren serupa terjadi di Korea Selatan (SK Group bermitra dengan Amazon), Taiwan (Foxconn dengan Nvidia), dan Thailand (Central Pattana, Gulf Development).
Konglomerat RI Tak Mau Kalah
Konglomerat Indonesia tidak tinggal diam dalam perebutan kue digital ini. Sinyal perluasan data center di dalam negeri terlihat jelas.
DCI Indonesia (DCI), yang didirikan oleh Otto Toto Sugiri, Marina Budiman, dan Han Arming Hanafia, telah menjadi salah satu operator pusat data terbesar di Asia Tenggara. Pada Agustus lalu, DCI menjadi perusahaan publik paling berharga kedua di Indonesia dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$37 miliar.
Sugiri mengonfirmasi perusahaan sedang meningkatkan kapasitas untuk memenuhi lonjakan permintaan. DCI, yang kini berkapasitas 119 MW di Jakarta, berencana melipatgandakan kapasitas lebih dari sepuluh kali lipat menjadi 1,9 GW, termasuk fasilitas hyperscale baru di Pulau Bintan.
Kesuksesan DCI menarik pemain besar lainnya. Sinar Mas Group (Franky Widjaja) bermitra dengan K2 Strategic, sementara Triputra Group (Theodore Rachmat) bekerja sama dengan ST Telemedia dari Singapura untuk memperluas jaringan pusat data nasional.
Ancaman Krisis Energi dan Potensi Gelembung
Namun, perlombaan data center Asia ini bukannya tanpa masalah. Percepatan pembangunan yang intensif menimbulkan kekhawatiran besar terkait pasokan listrik dan air.
Beberapa pengembang, seperti YTL, berinvestasi pada energi surya, sementara Samsung dan OpenAI menjajaki opsi pusat data terapung.
Meski demikian, laporan PwC memperkirakan bahwa pada 2030, energi hijau hanya dapat menutupi kurang dari sepertiga tambahan kebutuhan listrik. “Kesenjangannya sangat besar, dan menutupnya adalah sesuatu yang sangat penting,” tulis laporan itu.
Sejumlah analis juga mempertanyakan potensi gelembung (bubble). Namun, Jitesh Karlekar, direktur riset pusat data Asia-Pasifik di JLL, menilai permintaan ini nyata, didorong oleh lompatan besar penggunaan AI di sektor kritis seperti kesehatan, pendidikan, dan pertahanan.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita BAHAS ID WhatsApp Channel Disini. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

