JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memanaskan suhu geopolitik global dengan pernyataan kerasnya terkait ambisi penguasaan wilayah Greenland.
Trump menegaskan bahwa AS akan mengambil langkah konkret untuk mengakuisisi wilayah tersebut, baik “suka atau tidak suka”, demi kepentingan strategis membendung pengaruh Rusia dan China di kawasan Arktik.
Kepada wartawan, dikutip dari The Palm Beach Post, Minggu, (11/1), Trump tidak lagi sekadar melontarkan wacana, melainkan memberikan ultimatum yang jelas. Ia menyebut penguasaan Greenland sebagai keharusan (imperatif) strategis bagi pertahanan Amerika Serikat.
Trump menawarkan dua opsi: jalur diplomasi negosiasi pembelian yang ia sebut sebagai “jalan yang mudah”, atau menggunakan metode lain jika penawaran tersebut ditolak.
“Saya ingin membuat kesepakatan dengan cara yang mudah. Tapi jika kita tidak melakukannya dengan cara yang mudah, kita akan melakukannya dengan cara yang keras,” tegas Trump.
Alasan utama di balik obsesi Trump terhadap pulau terbesar di dunia itu adalah persaingan militer. Ia mengklaim bahwa perairan di sekitar Greenland kini sudah dipadati oleh armada tempur dua rival utama AS.
“Karena jika kita tidak melakukannya, Rusia atau China yang akan mengambil alih,” ujarnya.
Trump juga secara spesifik menyebut keberadaan kapal perusak (destroyer) dan kapal selam milik Beijing dan Moskow sebagai sinyal bahaya. Meski mengaku memiliki hubungan personal yang baik dengan pemimpin kedua negara tersebut, Trump menolak keras jika mereka bercokol di dekat wilayah AS.
“Saya berhubungan baik dengan Presiden Putin dan Presiden Xi, tapi saya tidak ingin mereka sebagai tetangga di Greenland. Itu tidak akan terjadi,” pungkasnya.
Lebih lanjut, Trump menepis klaim historis Denmark atas Greenland. Ia berargumen bahwa pendaratan kapal 500 tahun lalu tidak serta merta menjamin hak kepemilikan abadi.
Bagi Trump, status kepemilikan penuh (ownership) sangat krusial untuk pertahanan jangka panjang, berbeda dengan konsep menyewa lahan untuk pangkalan militer yang dinilainya lemah. Ia membandingkan hal ini dengan perjanjian nuklir Iran era Obama yang dianggapnya rapuh karena berjangka pendek.
“Ketika kita memilikinya, kita mempertahankannya. Anda tidak mempertahankan barang sewaan dengan cara yang sama,” jelas Trump.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Denmark belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan agresif dari Gedung Putih tersebut.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita BAHAS ID WhatsApp Channel Disini. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

