JAKARTA โ Sebuah kabar baik bagi penggemar produk olahan susu. Studi medis terbaru yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi Neurology menemukan adanya kaitan antara konsumsi keju tinggi lemak dengan penurunan risiko demensia.ย
Penelitian jangka panjang ini mengungkap bahwa individu yang rutin mengonsumsi keju dan krim memiliki potensi perlindungan otak yang lebih baik di masa tua.
Penelitian yang melibatkan data dari 27.670 orang dewasa di Swedia ini melacak pola makan peserta selama rata-rata 25 tahun. Hasilnya menunjukkan angka statistik yang signifikan terkait kesehatan kognitif.
Mereka yang mengonsumsi setidaknya 50 gram keju tinggi lemak (setara dua iris cheddar) per hari tercatat memiliki risiko demensia 13 persen lebih rendah dibandingkan kelompok yang hanya mengonsumsi kurang dari 15 gram.
Bahkan, penurunan risiko lebih drastis terlihat pada jenis demensia vaskularโpenurunan kognitif akibat gangguan aliran darah otakโyakni mencapai 29 persen. Tak hanya keju, konsumsi 20 gram krim tinggi lemak per hari juga dikaitkan dengan penurunan risiko sebesar 16 persen.
“Ini menunjukkan bahwa keju tinggi lemakโtetapi bukan makanan tinggi lemak lain seperti daging merahโmungkin memiliki sifat pelindung terhadap demensia pada populasi ini,” ungkap Silvia Fossati, PhD, Direktur Alzheimerโs Center di Temple University dikutip dari Health, Senin, (12/1).
Para ahli memiliki beberapa hipotesis mengapa produk susu berlemak ini berdampak positif. Keju kaya akan vitamin K2, kalsium, dan asam lemak omega-3 yang krusial untuk struktur sel otak serta mengurangi peradangan saraf (neuroinflammation). Selain itu, keju fermentasi baik untuk mikrobioma usus yang terhubung langsung dengan fungsi otak.
Hati-hati: Korelasi Bukan Sebab-Akibat
Meski temuan ini menjanjikan, para ahli kesehatan mengingatkan agar masyarakat tidak serta-merta menjadikan keju sebagai “obat ajaib”. Dalia Perelman, MS, CDE, ahli diet riset di Stanford Medicine, menekankan bahwa studi ini bersifat observasional.
“Kami tidak bisa memastikan apakah keju itu sendiri yang mempengaruhi risiko demensia, atau apakah asupan keju hanyalah penanda perilaku kesehatan atau pola makan lainnya,” jelas Perelman.
Artinya, bisa jadi pemakan keju di Swedia juga memiliki gaya hidup aktif atau pola makan sehat lainnya yang berkontribusi pada kesehatan otak mereka.
“Apa yang dimakan bersama keju, dan makanan apa yang digantikan oleh keju dalam diet seseorang, mungkin sama pentingnya dengan keju itu sendiri,” tambahnya.
Kuncinya Ada pada Moderasi
Dr. Jonathan Rasouli, seorang ahli bedah saraf, memperingatkan bahwa keju tinggi lemak juga mengandung lemak jenuh. Konsumsi berlebihan justru dapat memicu obesitas dan penyakit jantung, yang ironisnya merupakan faktor risiko utama demensia.
“Oleh karena itu, saya tidak menyarankan untuk meningkatkan asupan keju secara drastis sebagai strategi mencegah demensia,” tegas Perelman.
Cara terbaik menjaga kesehatan otak adalah dengan pola makan seimbang. Keju dapat menjadi bagian dari diet sehat jika dikonsumsi dalam jumlah wajar (moderasi), dikombinasikan dengan sayuran, serat, dan aktivitas fisik yang cukup.
Sumber: Health
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita BAHAS ID WhatsApp Channel Disini. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

