ACEH UTARA โ Mengusung semangat pemulihan pascabencana, kolaborasi lintas komunitas dari Kota Lhokseumawe menggelar aksi kemanusiaan bertajuk “Peulara Hate, Peubedoh Asa” (Merawat Hati, Membangkitkan Harapan) di Gampong Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Minggu (4/1/2026).
Kegiatan ini hadir tidak hanya untuk menyalurkan bantuan fisik, tetapi juga memprioritaskan kegiatan akademik dan dukungan psikososial luka anak-anak dan warga terdampak.
Kegiatan ini diinisiasi oleh gabungan tiga lembaga, yakni Yayasan Mendiva, Komunitas Pesawat Kertas, dan Yayasan Forum Pembaca Cendikia (WACANA). Fokus utama mereka adalah menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pemulihan mental penyintas bencana.
Koordinator Yayasan Mendiva, Hasan Elhusein, menjelaskan pentingnya keberadaan “Ruang Aman” di tengah situasi krisis. Menurutnya, anak-anak membutuhkan wadah untuk melepaskan trauma mereka.
“Kegiatan Ruang Aman ini kami hadirkan untuk memberi ruang aman dan suportif bagi anak-anak terdampak bencana agar mereka bisa bermain, berekspresi, dan mulai pulih secara emosional,” ujar Hasan di lokasi kegiatan.
Hasan menegaskan bahwa kolaborasi ini berangkat dari komitmen kuat untuk menempatkan keselamatan dan martabat anak sebagai prioritas utama. Pihaknya juga memastikan standar ketat bagi para relawan yang bertugas.
“Kami juga memastikan seluruh relawan memahami dan menerapkan kode etik perlindungan anak, agar setiap interaksi dengan anak berlangsung dengan aman, hormat, dan bertanggung jawab,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan Komunitas Pesawat Kertas, Fahry Purnama, menyoroti bahwa dampak bencana tidak hanya kasatmata seperti kerusakan infrastruktur, tetapi juga luka psikologis yang mendalam. Oleh karena itu, selain membawa bantuan logistik dasar, timnya fokus pada pendampingan psikososial bagi keluarga.
“Kami menyalurkan bantuan logistik dasar kepada warga Gampong Geudumbak, namun kami sadar bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan, tetapi juga luka batin. Anak-anak masih menyimpan ketakutan, sementara para ibu berusaha tetap kuat demi keluarganya,” kata Fahry.
“Melalui dukungan psikososial, kami hadir mendampingi anak-anak agar kembali merasa aman, sekaligus memberi ruang bagi para ibu untuk saling berbagi, menguatkan, dan tidak merasa sendiri dalam proses pemulihan,” lanjutnya.
Melengkapi aspek perlindungan dan kebutuhan dasar Yayasan Forum Pembaca Cendikia (WACANA) mengambil peran vital dalam menjaga semangat belajar anak-anak dan ketenangan emosional Ibu di tengah keterbatasan pascabencana.
Perwakilan WACANA, Juwita Desry Angraini, mengungkapkanย bahwa buku dan alat bermain adalah media ampuh untuk memfasilitasi keterbukaan emosional anak tanpa merasa terintimidasi.ย
“Di tengah puing dan lumpur sisa banjir, mimpi anak-anak tidak boleh ikut hanyut. Kami hadir membawa buku dan cerita sebagai ‘obat’ bagi jiwa mereka. Literasi bukan sekadar membaca, tapi cara kami menanamkan kembali harapan bahwa masa depan mereka masih panjang dan cerah,” ujar Juwita dengan optimis.
Ia menambahkan, sinergi ketiga komunitas ini adalah bukti bahwa pemulihan bencana membutuhkan pendekatan holistik.
“Fisik mereka kita bantu dengan logistik, rasa aman mereka dijaga oleh Mendiva, dan pikiran serta mimpi mereka kami rawat lewat literasi. Inilah esensi dari Peulara Hate, Peubedoh Asa,” pungkasnya.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita BAHAS ID WhatsApp Channel Disini. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.






