BERITA

Mitos Diabetes Basah dan Kering: Ini Fakta Medis yang Wajib Diketahui

Diabetes, gangren, bahas
Ilustrasi Diabetes. (Getty Images/Stuarbur)

JAKARTA Di tengah masyarakat Indonesia, istilah Diabetes Basah dan Kering masih sangat populer dan sering dianggap sebagai dua jenis penyakit yang berbeda. Padahal, dalam kamus medis resmi, klasifikasi tersebut sama sekali tidak dikenal.

Kekeliruan ini sering kali menimbulkan kebingungan dalam penanganan. Faktanya, sebutan tersebut hanyalah istilah awam yang merujuk pada kondisi fisik luka atau komplikasi yang dialami pasien, yang secara medis dikenal sebagai gangren.

Salah Kaprah Istilah Gangren

Secara medis, apa yang disebut masyarakat sebagai diabetes basah atau kering sebenarnya mengacu pada gangren, yaitu kondisi matinya jaringan tubuh akibat tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup.

Olympian Nurul Akmal Jadi PPPK Paruh Waktu, Kemenpora Buka Suara

Gangren terbagi menjadi dua, yang kemudian disalahartikan masyarakat:

  1. Gangren Basah (Mitos Diabetes Basah): Terjadi ketika jaringan mati mengalami infeksi bakteri. Luka tampak basah, membengkak, melepuh, atau bernanah. Kondisi ini rentan terjadi karena penderita diabetes memiliki imunitas yang lemah dalam melawan infeksi.
  2. Gangren Kering (Mitos Diabetes Kering): Terjadi karena penyumbatan pembuluh darah total. Jaringan yang mati akan mengering, mengerut, dan berubah warna menjadi hitam atau ungu tua tanpa disertai nanah berlebih.

Mitos dan Fakta Seputar Diabetes

Selain kerancuan istilah diabetes basah dan kering, masih banyak mitos lain yang menyesatkan. Berikut fakta medis untuk meluruskannya:

  • Mitos Buah dan Gula: Banyak yang mengira penderita diabetes haram makan buah dan gula. Faktanya, buah dengan indeks glikemik rendah (apel, pir, pepaya) sangat dianjurkan karena kaya serat. Gula pun masih boleh dikonsumsi namun dengan porsi yang sangat ketat dan terkontrol.
  • Hanya Menyerang Orang Tua: Ini salah besar. Gaya hidup sedenter dan pola makan buruk membuat remaja hingga anak-anak kini rentan terkena diabetes, terutama Tipe 2.
  • Orang Kurus Kebal Diabetes: Sekitar 15 persen penderita diabetes Tipe 2 memiliki berat badan normal. Genetika dan “kurus tapi banyak lemak perut” (skinny fat) tetap berisiko.

Tidak Semua Luka Berujung Amputasi

Ketakutan terbesar penderita diabetes adalah amputasi. Mitos yang beredar menyebutkan bahwa setiap luka pada penderita kadar gula darah tinggi pasti akan diamputasi.

Rose BLACKPINK Tampil di Grammy 2026 dan Borong 3 Nominasi

Faktanya, amputasi adalah jalan terakhir. Tindakan ini hanya diambil jika jaringan sudah mati total (gangren) demi mencegah infeksi menyebar ke bagian tubuh sehat. Dengan perawatan luka yang tepat sejak dini dan kontrol gula darah rutin, banyak luka diabetes yang bisa sembuh total tanpa perlu tindakan bedah ekstrem.

Oleh karena itu, pemahaman yang benar mengenai fakta medis diabetes sangat krusial agar pasien tidak terjebak dalam ketakutan yang tidak perlu dan bisa mendapatkan penanganan yang tepat.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita BAHAS ID WhatsApp Channel Disini. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Kolaborasi Komunitas Lhokseumawe Pulihkan Senyum Anak Aceh Utara Pascabencana

×
×