BIREUEN โ Di tengah sunyi yang menyelimuti Desa Kappa, Kecamatan Peusangan, kehadiran tim Relawan Garisdepan.org menjadi secercah cahaya bagi warga yang telah tiga bulan hidup dalam keterisolasian.
Datang jauh dari Jakarta, tim relawan ini harus menembus akses jalan rusak dan jembatan darurat demi menyalurkan bantuan logistik dan layanan trauma healing bagi korban banjir bandang, Minggu (14/2/2026).
Kedatangan mereka tidak hanya membawa bantuan fisik, namun juga menyingkap fakta mengejutkan tentang kondisi lapangan yang jauh lebih buruk dari laporan yang beredar selama ini.
Menembus Isolasi, Menghapus Trauma
Selama tiga hari menetap di Bireuen, tim Relawan Garisdepan.org bergerak menyisir titik-titik terparah yang sulit dijangkau. Misi mereka jelas: memastikan bantuan sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkan dan seringkali terlupakan.
Di Desa Kappa, relawan mendapati anak-anak yang masih trauma setiap kali hujan turun. Program trauma healing yang digelar pun menjadi momen langka di mana tawa kembali terdengar di desa yang gelap gulita tersebut. Bagi orang dewasa, kehadiran relawan menjadi tempat menumpahkan keluh kesah yang selama ini terpendam akibat putusnya akses komunikasi.
Kesaksian Ketua Relawan: “Kondisi Ini Miris”
Ketua Relawan Garisdepan.org, Inggit Ambar Wulan, tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat langsung dampak bencana yang meluluhlantakkan 90 persen wilayah desa. Menurutnya, apa yang mereka bawa belum sebanding dengan kebutuhan mendesak warga.
“Terus terang, bantuan yang kami bawa ini tidak cukup. Apa yang kami temui jauh lebih miris dari bayangan kami. Desa ini gelap, terputus, dan bertahan dalam kondisi yang darurat. Ini tidak boleh ditutup-tutupi,” ujar Inggit dengan suara bergetar.
Inggit menegaskan bahwa kondisi Desa Kappa terisolasi harus segera mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat maupun daerah. Ia meminta agar penderitaan warga tidak dianggap sekadar angka statistik.
“Kami berharap pemerintah datang, melihat sendiri, dan bertindak. Jangan menutupi keadaan yang sebenarnya. Warga di sini bukan angka statistik, mereka manusiaโanak-anak, lansia, petani yang berhak hidup layak,” tegasnya.
“Dunia Ingat Kami Lagi”
Bagi warga setempat, kedatangan relawan lebih dari sekadar bantuan materi. Hal ini dirasakan betul oleh Aminah (70), lansia korban banjir yang kehilangan tempat tinggal. Sambil menahan tangis, ia merasa kehadiran Relawan Garisdepan.org membuktikan bahwa mereka belum sepenuhnya dilupakan oleh dunia luar.
“Lagee donya lua hana tingat kamoe manteng na, na trouh relawan lagenyo na yang teuingat keu tanyoe rupajih (Rasanya seperti dunia luar lupa kalau kami masih ada, saat relawan datang beginilah, baru terasa ada yang mengingat kami),” ucap Aminah lirih.
Aksi kemanusiaan ini diharapkan menjadi pemicu bagi pihak terkait untuk segera memulihkan infrastruktur vital seperti listrik dan jembatan, agar warga Desa Kappa tidak lagi merasa hidup di “ujung dunia”.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita BAHAS ID WhatsApp Channel Disini. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

