LIFESTYLE

Gen Z Sering Pakai Istilah ‘Lifestyle Incompatibility’ untuk Akhiri Hubungan, Apa Artinya?

Lifestyle Incompatibility
Ilustrasi - Lifestyle Incompatibility. Bahas/Getty ImagesNuttawan Jayawan

JAKARTADinamika percintaan modern kembali melahirkan istilah baru yang ramai diperbincangkan di media sosial. Belakangan ini, Generasi Z (Gen Z) kerap menggunakan frasa Lifestyle Incompatibility sebagai alasan utama untuk mengakhiri hubungan asmara. 

Fenomena ini menyoroti bagaimana perbedaan kebiasaan sehari-hari, mulai dari pola tidur hingga manajemen keuangan, kini dianggap sebagai jurang pemisah yang fatal bagi kelangsungan hubungan jangka panjang.

Secara harfiah, Lifestyle Incompatibility merujuk pada ketidakcocokan gaya hidup yang mencakup perbedaan mendasar dalam rutinitas harian. Hal ini bisa sesederhana perbedaan jam bangun tidur, preferensi makanan, rutinitas olahraga, hingga cara seseorang menghabiskan uang untuk hiburan.

HIROE 2025 Sukses, Inovasi Pemuda Aceh Curi Perhatian

Bagi banyak Gen Z, perbedaan-perbedaan ini dianggap terlalu merepotkan untuk diperjuangkan. Alih-alih berkompromi, generasi ini cenderung beranggapan bahwa mereka tidak seharusnya mengorbankan rutinitas atau kenyamanan pribadi demi pasangan.

Antara Kedewasaan dan Jalan Pintas

Memutuskan hubungan karena ketidakcocokan gaya hidup sekilas terdengar rasional dan dewasa. Namun, pakar hubungan Dr. Elizabeth Fedrick memiliki pandangan kritis. Menurutnya, istilah ini sering kali dijadikan “alasan aman” atau tameng untuk menghindari konflik yang lebih dalam.

Meski perbedaan gaya hidup memang nyata, Fedrick menilai banyak orang menggunakan dalih ini untuk menghindari usaha keras dan komunikasi yang justru menjadi fondasi hubungan yang sehat.

Hebat! Satu Ubi Jalar Penuhi 400 Persen Kebutuhan Vitamin A untuk Kulit dan Mata

“Lebih mudah mengatakan hidup kita tidak sejalan daripada belajar berkomunikasi dan menyelesaikan konflik,” ujar Dr. Elizabeth.

Ilusi Kesempurnaan di Media Sosial

Fenomena ini tidak lepas dari pengaruh media sosial. Gen Z setiap hari terpapar gambaran pasangan “sempurna” yang terlihat selalu sefrekuensi (satu frekuensi) dalam segala hal tanpa celah. Akibatnya, kompromi dianggap sebagai tanda ketidakcocokan, dan perbedaan kecil sering kali dibesar-besarkan menjadi kegagalan hubungan.

Banyak yang terjebak dalam pemikiran bahwa hubungan ideal seharusnya berjalan mulus tanpa perlu banyak penyesuaian atau “gesekan” ego.

Benarkah Keju Baik untuk Otak? Simak Fakta Studi Terkait Risiko Demensia

Tameng untuk Hindari Kejujuran Emosional

Para ahli juga menyoroti bahwa penggunaan istilah Lifestyle Incompatibility sering kali menjadi cara halus untuk menghindari kejujuran emosional. Dengan menyalahkan jadwal gym atau perbedaan diet, seseorang tidak perlu mengakui bahwa masalah sebenarnya terletak pada perbedaan nilai, prioritas, atau sekadar hilangnya rasa cinta.

Selain itu, budaya individualisme yang kian kuat membuat banyak orang sangat fokus pada pengembangan diri (self-development). 

Ketika pasangan dianggap tidak selaras dengan jalur personal tersebut, mereka dengan mudah dianggap sebagai penghambat, bukan partner untuk bertumbuh bersama. Padahal, esensi dari membangun kehidupan bersama adalah kesediaan untuk terus bernegosiasi.

Perkuat Kesehatan Mental 2026: 7 Cara Ampuh Bangun Resiliensi Diri

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita BAHAS ID WhatsApp Channel Disini. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

×
×