NASIONAL

Indonesia Kurang Peneliti, BRIN Perjuangkan Formasi Periset di CPNS 2026

CPNS 2026, Arif Satria, bahas, formasi periset BRIN
Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dan Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian ke Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 24 November 2025. (Bahas/BPMI Setpres)

JAKARTA โ€“ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membawa kabar segar bagi para akademisi dan ilmuwan muda tanah air. Kepala BRIN, Arif Satria, memastikan pihaknya tengah memperjuangkan pembukaan formasi khusus periset dalam seleksi CPNS 2026 mendatang.

Langkah strategis ini diambil sebagai respons cepat pemerintah untuk menambal defisit jumlah peneliti di Indonesia yang dinilai masih sangat timpang jika dibandingkan dengan negara-negara maju.

Rasio Peneliti Masih Jauh Tertinggal

Dalam Sidang Terbuka Majelis Pengukuhan Profesor Riset BRIN di Jakarta, Selasa (25/11/2025), Arif Satria memaparkan data yang menjadi landasan kebijakan tersebut. Saat ini, rasio jumlah periset di Indonesia baru mencapai sekitar 300 orang per satu juta penduduk.

12.262 Pasien Cuci Darah BPJS Dinonaktifkan, Menkes BGS Usul Reaktivasi Otomatis

Angka ini sangat kontras dengan kondisi di negara maju, di mana rasionya bisa mencapai 4.000 periset per satu juta penduduk. Oleh karena itu, BRIN akan melobi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) untuk penambahan kuota.

“Ya, kita akan berjuang ke Kementerian PANRB agar bisa menambah jumlah periset, khususnya untuk bidang-bidang yang kita perlukan,” tegas Arif.

Bidang Prioritas yang Dibutuhkan

Bagi calon pelamar yang berminat mengikuti seleksi formasi periset BRIN, Arif membocorkan sejumlah bidang keilmuan yang menjadi prioritas utama. 

13,5 Juta Peserta Nonaktif, Kemensos Buka Opsi Reaktivasi PBI JKN Lewat Pemutakhiran Data

Adapun bidang-bidang strategis yang sangat dibutuhkan tersebut meliputi pemuliaan tanaman, nanoteknologi, genomics, dan antariksa. Selain itu, keahlian di bidang sains material serta teknologi keberlanjutan juga menjadi incaran utama lembaga riset negara tersebut.

Selain sains murni, Arif juga menekankan pentingnya ahli sosial. Menurutnya, inovasi teknologi tidak bisa berdiri sendiri tanpa analisis sosiologis dan ekonomi.

“Jadi bisa saja pangan, tapi orang satelit, orang material science. Untuk bisa menghasilkan alat-alat pertanian yang kuat, yang bagus kan butuh ahli material science, butuh ahli engineering,” jelasnya mengenai pentingnya kolaborasi lintas disiplin.

Rumah Sakit Dilarang Tolak Pasien, 5 Solusi Kisruh BPJS Disepakati

Perkuat Ekosistem Riset Nasional

Misi besar BRIN melalui rekrutmen CPNS 2026 ini adalah membangun kultur riset yang kuat dan berdampak nyata bagi masyarakat. Arif menekankan pentingnya talent spotting atau pencarian bakat peneliti tangguh.

“Jadi kita mau tidak mau, talent spotting untuk peneliti tangguh ini harus benar-benar kita perkuat. Dan karena itu ekosistem riset ini harus kita jaga, membuat orang nyaman dan membuat orang tertarik untuk menjadi peneliti,” pungkas Arif Satria.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita BAHAS ID WhatsApp Channel Disini. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Indonesia Butuh 12 Juta Talenta Digital, Menkomdigi Dorong Peran Perempuan di Bidang Teknologi

ร—
ร—