JAKARTA โ Wakil Menteri Kesehatan dr Benjamin Paulus Octavianus menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus menyajikan makanan segar yang dimasak, bukan diganti dengan snack atau biskuit. Peringatan ini disampaikan usai laporan terbaru mencatat 439 kasus keracunan pangan MBG di delapan kabupaten pada Jumat (17/10/2025).
Benjamin menjelaskan, tren kasus keracunan bersifat fluktuatif. Sehari sebelumnya tercatat 200 kasus, dan sebelumnya lagi 103 kasus, dari total hampir 35 juta penerima manfaat program. Ia menekankan target pemerintah adalah zero case, artinya tidak boleh ada satu pun kasus keracunan dalam pelaksanaan MBG.
Menurutnya, sebagian satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) memilih makanan kering karena keterbatasan dapur layak atau waktu pengadaan bahan segar. Namun, ia menegaskan makanan yang dimasak lebih aman dan bernilai gizi lebih baik dibandingkan produk kemasan.
Pengawasan Mutu Makanan MBG
Kementerian Kesehatan kini memperkuat pengawasan mutu makanan MBG. Upaya ini mencakup penyusunan standar kelayakan dapur, sanitasi, serta pelatihan pengelolaan bahan makanan bagi penyedia layanan.
Benjamin menilai peningkatan kualitas ini penting untuk menjaga keberlanjutan dan kredibilitas program. โMakanan yang berproses dan dimasak jauh lebih baik untuk kesehatan penerima manfaat,โ ujarnya.
Dampak bagi Publik
Program MBG menjadi salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam meningkatkan gizi masyarakat, khususnya anak sekolah. Dengan memastikan makanan dimasak langsung, risiko keracunan dapat ditekan sekaligus menjamin asupan gizi lebih optimal.
Kebijakan ini juga sejalan dengan tren global yang menekankan pentingnya food safety dan konsumsi makanan segar. Jika standar mutu terjaga, program MBG berpotensi memperkuat kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan dan pendidikan gizi nasional.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita BAHAS ID WhatsApp Channel Disini. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

